Sebuah desa di lembah Gunung Merapi, yang di apit oleh Gunung Singgalang dengan hawanya yang sejuk, dingin. Hamparan sawah dan ladang yang membentang merupakan untaian keindahan dan daya tarik tersendiri, yang memberatkan hati para perantau yang kembali ke Desa ini rasanya enggan untuk kembali ke rantau. Tapi sayang desa ini dihuni kebanyakan oleh kaum wanita yang masih anak-anak dan ibu yang sudah tua yang ditinggalkan oleh anaknya untuk mengadu nasib di Negeri orang, tampaknya pergi merantau dari desa ini merupakan sudah kewajiban anak laki-laki, sesuai pepatah yang ada di sana yaitu "Karatau madang ka ulu, babuah babungo balun, Karantau bujang dahulu dirumah baguno balun" artinya anak bujang di Desa ini belum berguna, untuk mereka mencoba mengadu nasib kerantau biasanya mengikuti yang sudah berhasil.
Awal mulanya para pendahulu mereka ke rantau bermodalkan seadanya saja tanpa pendidikan yang tinggi, pokoknya bisa berhitung dan kegigihan merupakan sudah suatu modal yang sangat besar, mereka berdagang, ada yang berdagang kaki lima, berdagang kain dan lainnya, tetapi untuk perantau sariak ini sangat populer awalnya berdagang barang antik, seperti keramik-keramik kuno, kuningan dan lainnya, untuk saat ini dagang barang antik hampir tidak ada lagi, disamping barang antik saat ini terkena larangan pemerintah tidak boleh diperdagangkan juga benda ini sudah mulai langka.
Pulang basamo para perantau ke Desa Sariak adalah rutinitas tahunan, yang menunjukkan kecintaan para penduduk aslinya pada tanah leluhurnya, anak-anak mereka diajarkan untuk mencintai kampung halamannya, uang yang mereka dapatkan dari rantau mereka bawa ke kampung halamannya untuk membangun desa, rumah-rumah di desa ini sudah bagus-bagus, mereka banyak membangun rumah gadang bagonjong yang baru agar budaya leluhur tidak hilang begitu saja.
Awal mulanya para pendahulu mereka ke rantau bermodalkan seadanya saja tanpa pendidikan yang tinggi, pokoknya bisa berhitung dan kegigihan merupakan sudah suatu modal yang sangat besar, mereka berdagang, ada yang berdagang kaki lima, berdagang kain dan lainnya, tetapi untuk perantau sariak ini sangat populer awalnya berdagang barang antik, seperti keramik-keramik kuno, kuningan dan lainnya, untuk saat ini dagang barang antik hampir tidak ada lagi, disamping barang antik saat ini terkena larangan pemerintah tidak boleh diperdagangkan juga benda ini sudah mulai langka.
Pulang basamo para perantau ke Desa Sariak adalah rutinitas tahunan, yang menunjukkan kecintaan para penduduk aslinya pada tanah leluhurnya, anak-anak mereka diajarkan untuk mencintai kampung halamannya, uang yang mereka dapatkan dari rantau mereka bawa ke kampung halamannya untuk membangun desa, rumah-rumah di desa ini sudah bagus-bagus, mereka banyak membangun rumah gadang bagonjong yang baru agar budaya leluhur tidak hilang begitu saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar