Minggu, 24 Agustus 2008

Komentar

Sebuah sindiran untuk laki-laki dari Sariak, yaitu:
"Karatau madang ka ulu, babuah babungo balun, Ka rantau bujang dahuku di rumah baguno balun"

Jenis Barang bisnis pebisnis Sariak (sriwijaya)




















Sabtu, 09 Agustus 2008

Jenis Barang bisnis pebisnis Sariak




Gambar ini adalah contoh jenis barang yang menjadi bisnis para pebisnis dari Sariak Bukittinggi di era tahun 1974-19988 yang marak di Jakarta, tampaknya sekarang benda-benda kuno ini sudah semakin langka, yang sudah dimiliki para pengusaha kaya

Bisnis Meubel Jepara antik




Ini adalah sebagian jenis meubel-meubel jepara antik yang menjadi bisnis para pebisnis dari Desa Sariak Bukittinggi di era tahun 1985-2008

Bisnis Barang Antik China




Jenis barang antik yang menjadi bisnis para pebisnis dari Sariak, di Era Tahun 1950-1990

Mesjid Sariak


Mesjid Sariak dibangun atas swadaya masyarakat di kampung maupun di rantau, arsitektur mesjid yang megah, yang seolah-olah terapung di atas air, karena memang mesjid ini dikelilingi oleh air, yang bersumber dari mata air yang jernih dan ditampung pada sebuah kolam yang besar dan disalurkan ke beberapa tempat pengambil Wudhu.

Desa Sariak

Simpang menuju ke Sariak
Sebuah desa di lembah Gunung Merapi, yang di apit oleh Gunung Singgalang dengan hawanya yang sejuk, dingin. Hamparan sawah dan ladang yang membentang merupakan untaian keindahan dan daya tarik tersendiri, yang memberatkan hati para perantau yang kembali ke Desa ini rasanya enggan untuk kembali ke rantau. Tapi sayang desa ini dihuni kebanyakan oleh kaum wanita yang masih anak-anak dan ibu yang sudah tua yang ditinggalkan oleh anaknya untuk mengadu nasib di Negeri orang, tampaknya pergi merantau dari desa ini merupakan sudah kewajiban anak laki-laki, sesuai pepatah yang ada di sana yaitu "Karatau madang ka ulu, babuah babungo balun, Karantau bujang dahulu dirumah baguno balun" artinya anak bujang di Desa ini belum berguna, untuk mereka mencoba mengadu nasib kerantau biasanya mengikuti yang sudah berhasil.
Awal mulanya para pendahulu mereka ke rantau bermodalkan seadanya saja tanpa pendidikan yang tinggi, pokoknya bisa berhitung dan kegigihan merupakan sudah suatu modal yang sangat besar, mereka berdagang, ada yang berdagang kaki lima, berdagang kain dan lainnya, tetapi untuk perantau sariak ini sangat populer awalnya berdagang barang antik, seperti keramik-keramik kuno, kuningan dan lainnya, untuk saat ini dagang barang antik hampir tidak ada lagi, disamping barang antik saat ini terkena larangan pemerintah tidak boleh diperdagangkan juga benda ini sudah mulai langka.
Pulang basamo para perantau ke Desa Sariak adalah rutinitas tahunan, yang menunjukkan kecintaan para penduduk aslinya pada tanah leluhurnya, anak-anak mereka diajarkan untuk mencintai kampung halamannya, uang yang mereka dapatkan dari rantau mereka bawa ke kampung halamannya untuk membangun desa, rumah-rumah di desa ini sudah bagus-bagus, mereka banyak membangun rumah gadang bagonjong yang baru agar budaya leluhur tidak hilang begitu saja.